You are currently viewing Tipe-tipe Sindrom Pfeiffer
  • Reading time:2 mins read

Tipe-tipe Sindrom Pfeiffer

Sindrom pfeiffer dibedakan menjadi tiga jenis. Tipe 1 adalah jenis paling ringan, sedangkan tipe 2 dan 3 adalah kondisi yang lebih parah. Sindrom ini dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan anak serta masalah lain pada otak dan sistem sarafnya. Sindrom ini memiliki gejala dan dampak yang berbeda-beda berdasarkan tipenya, di antaranya:

  • Tipe 1

Anak dengan sindrom Pfeiffer tipe 1 mungkin memiliki ciri-ciri berikut ini: Dahi tampak tinggi dan menonjol, jarak antar-mata lebar (hipelorisme okuler), wajah tengah yang kurang berkembang, rahang atas kurang berkembang dan  gigi berjejal (crowding).

  • Tipe 2

Beberapa tanda yang jelas dari sindrom Pfeiffer tipe 2 meliputi:

  1. Otak berhenti tumbuh atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya
  2. Mengalami kelainan tulang yang berpengaruh pada sendi siku dan lutut (ankylosis)
  3. Wajah berbentuk seperti daun semanggi dengan bagian atas kecil dan membesar di bagian rahang. Hal ini karena tulang-tulang kepala dan wajah telah menyatu lebih cepat dari yang seharusnya
  4. Mata menonjol seperti akan keluar dari kelopak (eksoftalmus)
  5. Terjadinya penumpukan cairan di rongga otak (hidrosefalus)
  6. Sulit bernapas dengan baik karena adanya gangguan tenggorokan, mulut, atau hidung
  • Tipe 3

Sindrom Pfeiffer tipe 3 adalah kondisi paling parah yang sangat berisiko terhadap kematian. Berbeda dengan tipe 1 dan 2, sindrom Pfeiffer tipe 3 tidak ditandai dengan gejala di kepala, melainkan organ-organ penting seperti paru-paru dan ginjal.

Prosedur bedah seumur hidup dibutuhkan agar bayi bisa bertahan hingga dewasa dengan gejala-gejala yang menyertai.

⁠Banyak kandidat pembantu dan baby sitter yang bisa dipilih di Hananiaserka.com