Sesuai dengan namanya, alopesia androgenetik memiliki asosiasi genetik yang sangat jelas dan kemungkinan besar dipengaruhi oleh respon yang berlebihan terhadap hormon androgen. Hormon androgen adalah hormon yang mengatur atau menjaga ciri pria pada tubuh manusia. Alopesia androgenetik diturunkan dari pihak ayah dan ibu. Risiko seorang laki-laki akan mengalami alopesia androgenetik akan meningkat 5-6 kali lipat apabila ayahnya mengalami hal serupa. Alopesia ini juga membutuhkan androgen untuk muncul, sehingga baru terjadi setelah pubertas. Laki-laki yang tubuhnya bermasalah dalam merespon hormon androgen (sindrom insensitivitas androgen) tidak mengalami alopesia androgenetik.
Alopecia androgenetik disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan hormonal. Dihydrotestosterone (DHT) adalah hormon utama yang bertanggung jawab untuk alopecia androgenetik. DHT menyebabkan kerontokan rambut di kulit kepala dengan menginduksi perubahan pada folikel rambut. Rambut yang dihasilkan oleh folikel yang terkena menjadi semakin kecil diameternya, lebih pendek panjangnya, dan warnanya lebih terang yang disebut dengan rambut vellus, sampai akhirnya folikel menyusut sepenuhnya dan berhenti memproduksi rambut hingga terjadi kebotakan.
Pada alopesia androgenetik, respon tubuh terhadap hormon androgen dapat memperpendek siklus pertumbuhan rambut, terutama pada fase anagen. Hal ini kemudian menyebabkan pengecilan folikel rambut (tempat bertumbuhnya rambut) sehingga rambut menjadi semakin tipis dan pendek, yang pada akhirnya tidak dapat tumbuh mencapai bagian kulit terluar.
Mencari ART berpengalaman? Klik Hananiaserka.com
