Sindrom pfeiffer dibedakan menjadi tiga jenis. Tipe 1 adalah jenis paling ringan, sedangkan tipe 2 dan 3 adalah kondisi yang lebih parah. Sindrom ini dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan anak serta masalah lain pada otak dan sistem sarafnya. Sindrom ini memiliki gejala dan dampak yang berbeda-beda berdasarkan tipenya, di antaranya:
- Tipe 1
Anak dengan sindrom Pfeiffer tipe 1 mungkin memiliki ciri-ciri berikut ini: Dahi tampak tinggi dan menonjol, jarak antar-mata lebar (hipelorisme okuler), wajah tengah yang kurang berkembang, rahang atas kurang berkembang dan gigi berjejal (crowding).
- Tipe 2
Beberapa tanda yang jelas dari sindrom Pfeiffer tipe 2 meliputi:
- Otak berhenti tumbuh atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya
- Mengalami kelainan tulang yang berpengaruh pada sendi siku dan lutut (ankylosis)
- Wajah berbentuk seperti daun semanggi dengan bagian atas kecil dan membesar di bagian rahang. Hal ini karena tulang-tulang kepala dan wajah telah menyatu lebih cepat dari yang seharusnya
- Mata menonjol seperti akan keluar dari kelopak (eksoftalmus)
- Terjadinya penumpukan cairan di rongga otak (hidrosefalus)
- Sulit bernapas dengan baik karena adanya gangguan tenggorokan, mulut, atau hidung
- Tipe 3
Sindrom Pfeiffer tipe 3 adalah kondisi paling parah yang sangat berisiko terhadap kematian. Berbeda dengan tipe 1 dan 2, sindrom Pfeiffer tipe 3 tidak ditandai dengan gejala di kepala, melainkan organ-organ penting seperti paru-paru dan ginjal.
Prosedur bedah seumur hidup dibutuhkan agar bayi bisa bertahan hingga dewasa dengan gejala-gejala yang menyertai.
Banyak kandidat pembantu dan baby sitter yang bisa dipilih di Hananiaserka.com
